Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2015

Bulan Sya'ban 1436 H

Bulan Sya'ban 1436 H atau di tahun 2015 ini sudah kita masuki. Bulan Sya'ban adalah bulan ke delapan dalam sistem kalender Islam atau kalender Hijriyah. Bulan Sya'ban berada di antara bulan hijriyah Rajab dan Ramadhan. Rasulullah saw. menyebut bulan Sya'ban ini sebagai bulan yang sering dilupakan. Ia dilupakan karena berada di antara dua bulan yang menyedot perhatian yaitu bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab diperhatikan karena ia merupakan salah satu dari bulan Haram, sementara Ramadhan karena adanya kewajiban puasa sebulan penuh didalamnya.

Ada beberapa persitiwa yang terjadi pada bulan Sya'ban adalah sebagai berikut:
  • Pada Sya'ban, Allah berkenan untuk merubah arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsho (Palestina) ke arah Masjidil Haram (Arab Saudi), yang sebelumnya tatkala umat Islam berada di Kota Madinah, jika melakukan shalat kiblatnya mengarah ke arah BAitul Maqdis. Tepatnya 15 Sya'ban, Allah berkenan memindahkan kiblat umat Islam menuju Masjidil Haram.
  • Pada bulan Sya'ban, segala amal manusia dalam jangka waktu satu tahun dilaporkan kehadirat Allah SWT. Sebagaimana hadits yang disampaikan sahabat Usamah bin Zaid ra., : "Saya pernah berkata: Ya Rasulullah! saya tidak melihat Anda berpuasa penuh pada bulan lain, seperti puasa Anda di bulan Sya'ban ini? Beliau menjawab: Pada bulan ini adalah sebuah bulan yang banyak dilalaikan oleh umat manusia, dan dia berada di antara Rajab dan Ramadhan yang pada bulan tersebut seluruh amal manusia dilaporkan ke hadirat Allah, maka aku senang tatkala amal ibadahku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa." (HR. An-Nasaiy).
  • Pada bulan Sya'ban, khususnya pada malam Nisfu Sya'ban, Allah berkenan untuk menentukan umur manusia. Seperti dalam hadits Aisyah ra, yang pernah bertanya kepada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah, apakah bulan yang Anda paling sukai untuk melakukan puasa adalah bualn Sya'ban?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah pada bulan ini menetapkan setiap jiwa manusia yang akan mati pada satu tahun ke depan, maka aku senang tatkala ajalku tiba aku sedang dalam keadaan puasa."

Tuntunan Rasulullah SAW dalam mengisi bulan Sya'ban dan beberapa persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan diantaranya sebagai berikut:

1. Bulan puasa sunah. 

Bulan Sya'ban adalah bulan yang disukai untuk memperbanyak puasa sunah. Dalam bulan ini Rasulullah saw. memperbanyak puasa sunah. Bahkan beliau berpuasa satu bulan penuh kecuali satu hari atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunah. 

Dari Aisyah RA berkata: "Aku tidak pernah melihat belia SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya'ban. Beliau berpuasa di bulan Sya'ban seluruh harinya, yaitu beliu satu bulan Sya'ban kecuali sedikit (beberapa) hari." (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710).

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah saw bersabda: "Janganlah  salah seorang di antara kalian mendahuli puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seorang telah biasa berpuasa sunah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut." (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

2. Bulan kelalaian

Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah saw. memperbanyak puasa sunah di bulan Sya'ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya'ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunha qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya'ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid RA ia berkata: "Wahai Rasulullah saw, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya'ban? Beliau SAW menjawab: 


ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

"Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah." (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini).

3. Bulan menyirami amalan-amalan salih

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Disinilah bulan Sya'ban menempati posisi yang sangat urgent sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinyu. Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata:"Bulan Rajab adalah bulana menanam. Bulan Sya'ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman."

Beliau juga berkata:"Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya'ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan."

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya'ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai. Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

4. Bulan persiapan menyambut bulan Ramadhan

Bulan Sya'ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. untuk mengisi bulan Sya'ban dan sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang selayaknya dikerjakan oleh setiap muslim, di antaranya adalah:

a. Persiapan iman, meliputi:
1) segera bertaubat dari semua dosa dengan menyesali dosa-dosa yang telah lalu, meninggalkan perbuatan dosa tersebut saat ini juga, dan bertekad bulat untuk tidak akan mengulanginya kembali pada masa yang akan datang,
2) memperbanyak doa agar diberi umur panjang sehingga bisa menjumpai bulan Ramadhan,
3) memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban agar terbiasa secara jasmani dan rohani. Ada beberapa cara puasa sunah yang dianjurkan di bulan Sya'ban, yaitu puasa Senin - Kamis setiap pekan ditambah puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14, dan 15 Sya'ban), atau puasa Daud, atau puasa lebih banyak dari tanggal 1 -28 Sya'ban.
4) mengakrabkan diri dengan Al-Qur'an dengan cara membaca lebih dari satu juz per hari, ditambah membaca buku-buku tafsir dan melakukan tadabbur Al-Qur'an.
5) meresapi kelezatan shalat malam dengan melakukan minimal dua rakaat tahajjud dan rekaat witir di akhir malam.
6) meresapi kelezatan dzikir dengan menjaga dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, dan dzikir-dzikir rutin lainnya.

b. Persiapan Ilmu, meliputi:
1) mempelajari hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara lengkap, minimal dengan membaca bab puasa dalam (terjemahan) kitab Minhajul Muslim (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi) atau Fiqih Sunnah (Syaikh Sayid Sabiq) atau Shahih Fiqih Sunnah (Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim) atau pedoman puasa (Tengku Moh. Hasbi Ash-Shidiqi) atau buku lainnya.
2) mempelajari rahasia-rahasia, hikmah-hikmah, dan amalan-amalan yang dianjurkan atau harus dilaksanakan di bulan Ramadhan, dengan membaca buku-buku yang membahas hal tersebut.
3) mempelajari tafsir ayat-ayat hukum yang berkenan dengan puasa, misalnya dengan membaca (terjemahan) Tafsir Al-Qur'an  Al-'Azhim (Ibnu Katsir), atau Tafsir Al-Jami' li Ahkamil Qur'an (Al-Qurthubi),
4) mempelajari buku-buku akhlak yang membantu menyiapkan jiwa untuk menyambut bulan Ramadhan,
5) mendengar ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan,
6) mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an sebagai persiapan bacaan dalam shalat Tarawih, baik bagi calon imam maupun orang yang shalat tarawih sendirian di akhir malam (tidak berjama'ah ba'da Isya' di masjid),
7) mendengarkan bacaan murattal shalat tarawih para imam masjid yang terkenal keahliannya di bidang tajwid, hafalan, dan kelancaran bacaan.

c. Persiapan dakwah, meliputi:
1) menyiapkan materi-materi untuk kultum, taushiyah, ceramah, khutbah Jum'at dan dakwah bil lisan lainnya,
2) membuat selebaran, brosur, pamflet, majalah dinding, buletin dakwah dan lembar-lembar dakwah yang mengingatkan kaum muslimin tentang tata cara menyambut Ramadhan,
3) mengikuti kultum, ceramah-ceramah, dan pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kita (lingkungan masjid, tempat kerja, tempat belajar-mengajar) baik sebagai pemateri atau peserta sebagai bentuk persiapan dan pembiasaan diri untuk mengikuti kegiatan serupa di bulan Ramadhan,
4) mengadakan pesantren kilat, kursus keislaman, islamic study dan acara-acara sejenis.

d. Persiapan keluarga, meliputi:
1) menyiapkan anggota keluarga (anak-anak dan suami/istri) untuk menyambut kedatangan Ramadhan dengan mengenalkan kepada mereka persiapan-persiapan yang telah disebutkan di atas,
2) membiasakan mereka untuk menjaga shalat lima waktu, shalat sunnah Rawatib, shalat dhuha, shalat malam (tahajud dan witir), dan membaca Al-Qur'an,
3) memberikan taushiyah/kultum harian jika memungkinkan,
4) meminimalkan hal-hal yang melalaikan mereka dari amal shalih di bulan Sya'ban dan Ramadhan, seperti musik-musik dan lagu-lagu jahiliyah, menonton TV, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak membawa manfaat akhirat,
5) menyisihkan sebagian pendapatan untuk sedekah.

e. Persiapan Mental, menyiapkan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk:
1) membuka lembaran hidup baru dengan Allah SWT, sebuah lembaran putih yang penuh dengan amal ketaatan dan berisi sedikit amal-amal keburukan,
2) membuat hari-hari kita di bulan Ramadhan tidak seperti hari-hari kebiasaan kita di bulan lain yang penuh dengan kelalaian dan kemaksiatan,
3) meramaikan masjid dengan melakukan shalat lima waktu secara berjama'ah di masjid terdekat dan menghidupkan sunah-sunah ibadah yang telah lama kita tinggalkan, seperti: bertahan di masjid ba'da Subuh sampai terbitnya matahari untuk dzikir, tilawah Al-Qur'an, atau belajar-mengajar, hadir di masjid sebelum adzan dikumandangkan, bersegera ke masjid untuk mendapatkan shaf awal, menunggu kedatangan imam dengan shalat sunnah dan niat I'tikaf, dst.
4) membersihkan puasa dari hal-hal yang merusak pahalanya, seperti bertengkar, senda gurau dan perbuatan-perbuatan iseng yang sekedar mengisi waktu tanpa membawa manfaat akhirat sedikitpun (main catur, main kartu, nongkrong bareng sambil menyanyi, dst)
5) menjaga dan membiasakan sikap lapang dada dan pemaaf,
6) beramal shalih di bulan Ramadhan dan memulai banyak niat sedari sekarang, seperti niat bertaubat, niat membuka lembaran hidup baru dengan Allah SWT, niat memperbaiki akhlak, niat berpuasa ikhlas karena Allah semata, niat mengkhatamkan Al-Qur'an lebih dari sekali, niat shalat tarawih dan witir, niat memperbanyak amalan sunah, niat mencari ilmu, niat dakwah, niat membantu menolong dan menyantuni sesama muslim yang membutuhkan, niat memperjuangkan agama Allah SWT, niat umrah, niat jihad dengan harta, niat I'tikaf, dst.)

f. Persiapan Jihad melawan hawa nafsu, diantaranya adalah:
1) mengekang hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan keinginan hidup mewah, boros, kikir, dan menikmati makanan-makanan yang lezat atau pakaian yang baru di bulan Ramadhan,
2) membiasakan lisan untuk mengatakan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat, mencegahnya dari mengucapkan perkataan-perkataan keji, jorok, menggunjing, mengadu domba, dan perkataan-perkataan yang tidak membawa manfaat di akhirat,
3) mencegah hawa nafsu dari keinginan untuk melampiaskan kemarahan, kesombongan, penyimpangan, kemaksiatan, dan kezaliman,
4) membiasakan diri untuk hidup sederhana, ulet, sabar, dan sanggup memikul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah,
5) melakukan musahabah (introspeksi) harian dengan membandingkan antara program-program persiapan di atas dan tingkat keberhasilan pelaksanaannya.

Uraian di atas adalah sekelumit amalan sunnah di bulan Sya'ban dan persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga kita termasuk golongan yang bisa berniat, berucap, dan berbuat yang terbaik di bulan Sya'ban dan Ramadhan yang akan datang. Hanya kepada Allah SWT kita memohon petunjuk dan pertolongan.

Wallahu a'lam bish shawab..

Sumber:

Sabtu, 05 Januari 2013

Jangan Sampai Amal Kita Hangus!

Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.
Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.
Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.

Para sahabat penasaran. Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin 'Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari dirumahnya.

Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, "Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan. Apa yang engkau lihat itulah.

Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah SWT berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian dan rasa dendam.

Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qalbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih (QS. Asy Syu'raa (26) : 87.

Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apapun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.

Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, ataupun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.

Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasi diri dengan berjuta-juta amalan wajib maupun sunat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah SWT. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.

Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan. Maka sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.

Pertama: takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tiak akan masuk surga seseorang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR. Muslim).

Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dans enang melihat orang lain susah. Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah SAW menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ketiga, Riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah SWT kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia melihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Al-Qur'an, diungkapkan pula bahaya riya. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya (QS. Al-Maa'un (107) : 4-6 ).

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.

sumber: republika.co.id 
http://ervakurniawan.wordpress.com/2012/12/24/jangan-sampai-amal-kita-hangus/

Rabu, 04 Juli 2012

Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban


Jika malam nisfu sya’ban datang, sebagian kaum muslimin melakukan ibadah khusus seperti shalat dan membaca do’a. Apakah yang mereka lakukan itu disyari’atkan ? Adakah dalil yang menunjukkan kelebihan malam itu?
Mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban ini terdapat beberapa buah hadits, antara lain berbunyi :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala bertajalli (menampakkan diri) pada malam nisfu sya’ban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan do’a mereka, kecuali sebagian ahli maksiat.”
Hadits ini dianggap hasan oleh sebagian orang dan dilemahkan oleh sebagian ulama yang lain, sehingga Al Faqih al Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata, “Tidak ada satupun hadits yang shahih mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban.”
Tidak terdapat satu pun riwayat dari Nabi saw. Dan para shahabat serta generasi pertama Islam—yang merupakan sebaik-baik generasi—bahwa mereka berkumpul di masjid-masjid untuk menghidupkan malam ini dan membaca do’a-do’a khusus serta melakukan shalat-shalat khusus pula sebagaimana yang kita lihat di beberapa negara Islam.
Di beberapa negeri Islam, pada malam nisfu Sya’ban, orang-orang berkumpul di masjid-masjid. Mereka membaca surat Yasin, kemudian melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk panjang umur, lalu shalat dua raka’at lagi dengan niat agar kaya dan ‘tidak berkeperluan’ kepada orang lain. Setelah itu, membaca do’a yang tidak diriwayatkan dari seorangpun golongan salaf, yaitu do’a yang panjang, yang bertentangan dengan nash, dan bertentangan ma’nanya antara satu dengan yang lain. Dalam do’a itu mereka mengucapkan (yang artinya-peny):
“Ya Allah, jika Engkau telah mencatat aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rejeki-ku, maka hapuskanlah ya Allah dengn karunia-Mu akan kecelakaan (kesengsaraanku), keterhalanganku,keterusiranku dan kesempitan rejeki-ku itu. Dan tetapkanlah aku di sisi-Mu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rejeki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya, karena sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-MU adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan dan melalui lisan Nabi-Mu yang Engkau utus (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh  Mahfuzh).”
Makna ayat yang disebut dalam bagian terakhir do’a di atas (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) ialah bahwa sesuatu yang telah ditetapkan dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) tidak mungkin dihapus atau ditambah dengan ketetapan baru. Kalau pun dapat dihapus atau dibuat ketapan yang baru itu bukan pada catatan Lauh Mahfuzh, melainkan pada selain itu, yaitu pada catatan malaikat dan lainnya. Jadi bagaimana mungkin seorang hamba dapat meminta kepada Tuhannya agar Dia menghapuskan dan menetapkan sesuatu yang baru di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)?
Begitu pula do’a-do’a yang mereka ucapkan seperti: “Jika Engkau telah menentukan begitu dan begini………..maka hapuskanlah ini dan itu, atau perbuatlah begini dan begitu….” Hal itu menunjukkan keraguan, padahal Nabi saw. Menyuruh kita berdo’a kepada Allah dengan mantap dan sungguh-sungguh, tidak boleh merasa bimbang dan ragu-ragu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa do’a nisfu Sya’ban tersebut salah dan tidak mempunyai landasan sama sekali.
Dalam do’a tersebut juga terdapat ucapan :”Wahai Tuhanku,dengan tajalli agung pada malam nisfu Sya’ban yang mulia, yang pada malam itu segala urusan dijelaskan dan ditetapkan, hendaklah Engkau hilangkan bala bencana dari kami, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui…..”
Ucapan di atas juga merupakan kesalahan, karena yang dimaksud dengan malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah (tentang hidup, mati rejeki, nasib baik, nasib buruk, dan sebagainya) itu ialah malam diturunkannya Al Quran, malam al Qadar, malam tajalli yang teragung, yaitu pada bulan ramadhan menurut nash Al Quran. Allah berfirman:
“Haa Miiiim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhan : 1-4)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan“ (Al Qadr :1)
“Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…” (Al-Baqarah:185)
Jadi, secara meyakinkan dapat dikatakan bahwa yang dimaksud ‘malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah itu ‘ yang disebutkan dalam do’a nisfu Sya’ban tersebut adalah malam Al Qadar pada bulan ramadhan sebagaimana ijma’ ulama. Adapun riwayat dari Qatadah yang menyebutkan bahwa malam nisfu Sya’ban itu malam yang dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah merupakan riwayat dha’if dan mudhtharib (tidak meyakinkan). Sebelumnya dari Qatadah sendiri terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa malam itu ialah malam Al Qadar.
Ibnu Katsir menilai dha’if hadits yang menerangkan bahwa pada malam nisfu Sya’ban telah ditetapkan ajal (manusia) dari bulan  sya’ban yang satu ke bulan sya’ban yang lain. Hal ini bertentangan dengan nash-nash (Al-Quran dan hadist yang shohih).
Dari sini kita tahu bahwa do’a nisfu sya’ban tersebut penuh dengan kekeliruan dan kesalahan, dan merupakan do’a yang tidak ada riwayatnya dari nabi SAW, dari generasi umat terbaik (generasi sahabat, peny) dan tidak diriwayatkan dari kalangan salaf.
Masalah berkumpul-kumpul (pada malam nisfu sya’ban) dalam bentuk yang seperti yang kita lihat dan kita dengar di beberapa negara Islam, itu merupakan bid’ah.  Seharusnya mengenai peribadatan kita hanya mengikuti riwayat yang ada.  Kita tidak boleh mengada-ada. Kita mesti mengikuti jalan kebenaran yang telah ditempuh orang-orang salaf, dan meninggalkan jalan keburukan (bid’ah) yang diciptakan orang khalaf (belakangan). Sebab, semua yang diadakan (dalam ibadah) adalah bid’ah, semua bid’ah adalah sesat, dan semua kesesatan adalah tempatnya di neraka (kullu bid’atin dholaalah wa kullu dhallaalatin fin naar, peny).
Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengikuti apa yang datang dari Rasulullah saw.dan sahabat-sahabat beliau.

Selasa, 01 Mei 2012

Ingatlah Ayat Ini


“Hai manusia, kamu lah yang butuh pada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Jika Anda Tidak Bisa Tidur..
Karena dilanda kesedihan,karena hati pedih, karena datang nestapa, hati galau tidak tahu harus bagaimana, hati hancur luluh karena musibah, atau sederet kesedihan lainnya…
Berzikirlah kepada Allah…Ingatlah Allah yang menciptkan kita semua, sebutlah nama-nama Allah nan Indah (Asmaul Husna).
Inilah yang ditegaskan Allah dalam firman Nya:

“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam: 65)

Semakin Kuat, Semakin Banyak....
Semakin kuat Anda mengingat Allah, pastilah semakin tinggi keinginanmu untuk berzikir, otomatis semakin lapang dada dan semakin bertambah kepercayaan diri. Hati akan terasa lebih tenang, jiwa bahagia dan pasti Anda akan menghadapi semuanya dengan penuh kegembiraan...maka:
Banyaklah membaca Istighfar..
Banyaklah membaca Hamdalah..
Banyaklah membaca Tasbih, Tahmid dan Takbir..
Sejukan hati dengan Asmaul Husna

Ahh…Hati Tetap Saja Tidak tenang..
Kalau ada yang nyeletuk…Ahh…saya dah zikir..tapi tetap aja hati kagak tenang..?? malah masalah makin banyak aja..!!
Berarti hatinya tertutup dan tidak dapat menikmati nikmatnya zikir.
Kira-kira saja, masalah segudang tapi malas Tahajud, malas ber zikir,ngak pernah Tobat, ngak bisa muhasabah. Kalaupun ber zikir hanya sekejap, malas pergi ke Majelis Taklim, malas baca Al-Qur’an, malas mengkaji Hadist, ogah datang ke Masjid…dll
Kalau sudah begini gimana nyembuhin nya?

Semoga bermanfaat.


(dari sahabat)

Selasa, 13 Maret 2012

Bila Al-Qur'an Bisa Bicara!


“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al A’raaf [7] : 36).
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca
Koran pagi atau nonton berita TV Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan?
Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selama melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…
Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…
Di kuburmu nanti….
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu
Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali…
Baca dan pelajari lagi aku….
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu….dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…
Di surau kecil kampungmu yang damai

Jangan biarkan aku sendiri…. Dalam bisu dan sepi….

“Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu”

***

Sumber:

Senin, 06 September 2010

Menyambut Idul Fitri 1431 H




Biasanya banyak hal yang dilakukan oleh umat Islam menjelang "hari kemenangan" atau Idul Fitri. Ada yang lebih mempertebal iman dengan menambah amalan ibadah misalnya membaca Al-Qur'an hingga khatam, shalat lail, sedekah, dan lainnya. Ada pula yang menyiapkan baju baru untuk dipakai di Shalat Ied nanti, membuat kue-kue lebaran, mudik berkumpul handai taulan di kampung halaman, dan lain sebagainya. Yang jelas ada semangat dan kegembiraan serta berlomba-lomba meraih kemenangan di hari raya yang fitri nanti.

Sebenarnya apa sih hakikat Idul Fitri ini?

Menurut Wikipedia Idul Fitri : عيد الفطر ‘Īdu l-Fiṭr) adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalanHijriah. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan menyelenggarakan Shalat Ied bersama-sama di masjid-masjid, di tanah lapang, atau bahkan jalan raya (terutama di kota besar) apabila area ibadahnya tidak cukup menampung jamaah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri)
Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “Iedul Fitri” adalah
kembali kepada fitroh (suci)
karena dosa-dosa kita telah terhapus. Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i
. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” demikian, seharusnya namanya “Iedul Fithroh” (bukan ‘Iedul Fitri). Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa. Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’” (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih) (Majalah As Sunnah 05/I, Ustadz Abdul Hakim). Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa). (http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bimbingan-idul-fitri.html)
Fitri berarti fitrah atau suci. Sesuai dengan arti kata itu, kaum muslimin pada hari Idul Fitri merayakan kemenangannya karena mereka telah berhasil membersihkan / mensucikan jiwanya dari kotoran dan karat-karat nafsu dunia dan kembali kepada fitrahnya yang suci, yaitu Islam. Bagaimanakah orang yang telah mengembalikan fitrah Islamnya ? Salah satu cirinya yaitu, mereka telah mampu meng-aplikasikan Islam dalam setiap gerak dan langkah kehidupannya di dunia (segala perkataan dan perbuatannya selalu merujuk pada Al-Quran dan Sunnah Rasul), sehingga baginya dunia hanyalah sarana untuk mencapai tujuan akhirat. Mereka yang telah bersungguh-sungguh dalam menjalankan puasanya demi untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan mencapai keridhaan-Nya semata. Bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban dalam rukun Islamnya saja, apalagi dengan tujuan riya’ (pemer) kepada manusia. Mudah-mudahan Allah menjauh-kan kita dari sifat riya’ ini dan memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang bergembira karena puasanya. (http://nisaonline.tripod.com/naskah/9602ut.htm).

Sesuai dengan ajaran Islam, perayaan Idul Fitri ini diharapkan menguatkan hubungan yang bersifat vertikal, yaitu dengan Allah sang Pencipta sebagai tanda syukur, dan menguatkan hubungan yang bersifat horisontal, antara sesama makhluk, khususnya sesama manusia.
Menguatkan hubungan vertikal ini dapat dilakukan dengan jalan memperbanyak dzikrullah, mengumandangkan ucapan Takbir dan Tahmid : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamd (Allah Maha Besar, Dia-lah yang berhak menerima puja dan puji). Sebagai puncaknya, kaum muslimin mengerjakan shalat Idul Fitri.
Sedangkan menguatkan hubungan vertikal adalah dengan membagi kegembiraan dengan mengulurkan tangan kepada orang-orang yang lemah, terutama anak yatim dan fakir miskin, dengan memberikan zakat fitrah kepada mereka. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap Muslim dan Muslimah, kecuali mereka yang tidak mampu, yang hanya mempunyai persediaan makanan di rumah. Pada hari itu juga telah lazim bahwa setiap muslim saling mengunjungi satu sama lain dan saling memaafkan, sehingga ikatan persaudaraan Islam akan semakin kuat. Tetapi satu hal yang kurang pada tempatnya, bahwa kita saling memaafkan justru pada akhir bulan Ramadhan. Padahal seharusnya hal ini kita lakukan sebelum / menjelang bulan Ramadhan, sehingga kita dapat memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih.

Adapun adab dalam menyambut hari raya Idul Fitri adalah:
Pertama, niat yang benar.
Niat yang benar merupakan dasar dari semua urusan. ''Wajib bagi seorang Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya, seperti berniat ketika keluar rumah untuk shalat demi mengikuti Nabi SAW,'' ungkap Syekh Sayyid Nada.

Kedua, mandi.
Pada hari Idul Fitri hendaknya setiap Muslim mandi. Sehingga, kata Syekh Sayyid Nada, dapat berkumpul bersama kaum Muslimin lainnya dalam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).

Ketiga, memakai wewangian.
Saat akan shalat Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim memakai wewangian dan dalam keadaan bersih.

Keempat, memakai pakaian baru.
Menurut Syekh Sayyid Nada, jika seseorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR Al-Baihaki).

Kelima, mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat.
Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Ied tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari-Muslim).

Keenam, memakan kurma sebelum berangkat darirumah pada hari raya Idul Fitri.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya. (HR at-Tirmidzi)

Ketujuh
, bersegera menuju tempat shalat.
Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat I'ed.

Kedelapan, keluarnya wanita ke tempat shalat.
Menurut Syekh Sayyid Nada, wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat walaupun sedang haid. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.

''Meski begitu, hendaknya wanita yang haid memisahkan diri dari tempat shalat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Nabi SAW memerintahkan gadis-gadis pingitan, anak-anak, serta wanita haid untuk keluar, namun wanita haid yang menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Mukminin, hendaklah mereka memisahkan diri dari tempat shalat.

Kesembilan
, anak-anak juga keluar untuk shalat.
Ibnu Abbas RA berkata, ''Aku keluar bersama Nabi SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah…'' (HR Bukhari-Muslim). Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaknya anak-anak ikut keluar sehingga mereka ikut merasakan kebahagiaan hari raya, bersenang-senang dengan pakaian baru, keluar ketempat shalat, dan menyaksikan jamaah kaum Muslimin walaupun mereka tidak shalat karena masih kecil.

Kesepuluh, keluar untuk shalat dengan berjalan kaki.
Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Perbuatan inilah yang disukai selama tak memberatkan orang yang shalat.

Kesebelas, bertakbir dengan suara keras sampai ke tempat shalat.
Disunahkan bertasbih mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syi'ar Islam.

Keduabelas, bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang shalat.
Bersalaman dan saling mengucapkan selamat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari Ied. Bisa pula sambil mengucapkan, ''Semoga allah menerima amal kami dan amal kalian.'' (“taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” (Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia).

Ketigabelas
, Berangkat dan pulang shalat ied melalui jalan yang berbeda. (Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan sholat, jika telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih).
Keempatbelas, bersilaturahim.
Menjalin silaturahim wajib pada setiap waktu. Namun, semakin dianjurkan pada saat hari raya Idul Fitri. Sehingga, semua anggota keluarga bisa senang dan bisa merasakan kebesaran hari raya itu.

Kelimabelas, saling bertikar hadiah dan makanan.
Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setaip tetangga bertukar makanan dan hidangan. Bahkan, dianjurkan untuk memberikan hadiah bagi mereka yang tak mampu.
Sebelum menyambut hari raya Idul Fitri dengan melaksanakan shalat Ied, ada disarankan untuk menyambutnya dengan takbir dan tahajud. Barangsiapa yg menghidupkan malam idul fitri dg Tahajjud dan mengingat dosa dan bertafakkur, maka Allah akan membuat hatinya terus hidup pada saat matinya semua hati. (Sumber - Mukasyiaftulquluub - Imam Ghazali bab Fadhlul Ied).

Akhirnya saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1431 H. Semoga tulisan di atas yang saya rangkum dari berbagai sumber dapat bermanfaat.

Senin, 30 Agustus 2010

Lailatul Qadar


Lailatul Qadar dalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan yang dalam Al-Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lailatul Qadar juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadr, surat ke 97 dalam Al-Qur'an. Pada surah Al-Qadr ini diterangkan bahwa permulaan al-Qur'an diturunkan ialah pada malam Lailatul Qadr dan diterangkan juga ketinggian derajat malam ini.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni:
1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami.
2.
Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada Surat Al-An'am ayat 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.
3.
Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26 : Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).

Waktu terjadinya malam Lailatul Qadar berdasarkan hadis dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Tanda-tanda malam Lailatul Qadar :
1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR.Ibnu Hibban).
3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178).

Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).
Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Semoga Allah selalu menetapkan iman kita dan semoga kita termasuk orang yang mendapatkan lailatul qadar. Amin.

(diolah dari berbagai sumber)