Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Oktober 2021

POTRET PROFIL PELAJAR PANCASILA di SMA IT QARDHAN HASANA BANJARBARU (AKHLAK MULIA DUA SISWA PADA SEORANG TEMAN KELASNYA YANG TUNADAKSA/CACAT TUBUH)

 

Tulisan ini merupakan potret dari sudut pandang pribadi saya sebagai orang tua mengenai Profil Pelajar Pancasila yang tengah marak dipraktikkan dan disosialisasikan penerapannya. Berbagai program praktik baik Profil Pelajar Pancasila yang diselenggarakan oleh sekolah tentunya diharapkan dapat dirasakan hasilnya atau dampaknya tidak hanya untuk sekolah dan jangka pendek, namun untuk semua kalangan dan khususnya untuk anak-anak kita generasi penerus bangsa di jangka panjang ke depan.

Profil Pelajar Pancasila memiliki enam elemen yaitu: berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Keenam elemen ini dilihat sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dan berkesinambungan satu sama lain. Karakter pada elemen profil pelajar Pancasila dapat dibentuk melalui pembiasaan, keteladanan dan terporgram. Dalam mewujudkan karakter melalui pembiasaan dan terprogram pada Profil Pelajar Pancasila, salah satunya adalah dengan sekolah inklusi, di mana sekolah formal memiliki salah satu atau beberapa peserta didik atau siswa disabilitas. Banyak kebaikan atau manfaat yang didapat melalui sekolah inklusi ini, baik bagi guru, siswa-siswa yang normal, siswa yang disabilitas, dan orang tua. Di antara kebaikan tersebut yaitu dapat menumbuhkan empati, peduli, bersyukur, dan memberikan wawasan bagi masyarakat, baik yang di dalam sekolah maupun yang di luar sekolah.

Salah satu sekolah swasta (SMA Islam Terpadu) di Kota Banjarbaru yaitu SMA IT Qardhan Hasana memiliki seorang siswa tuna daksa yang mana kedua kakinya tumbuh tidak sempurna. Istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna” dan “daksa”. Tuna yang berarti rusak atau cacat, dan daksa yang berarti tubuh. Definisi tunadaksa menurut Sutjihati Somantri adalah suatu keadaan yang terganggu atau rusak sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada otot, sendi dan tulang dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kecelakaan, penyakit atau juga bisa disebabkan karena pembawaan sejak lahir.

Kehadiran siswa tunadaksa yang kedua kakinya tumbuh tidak sempurna di sekolah tersebut memupuk akhlak mulia pada siswa lain yang memiliki tubuh sempurna. Siswa tunadaksa tersebut tidak diabaikan oleh teman-teman sekelasnya. Setiap hari, khususnya menjelang waktu sholat dhuhur dan sholat ashar, anak tersebut memiliki dua teman yang peduli dan siap membantu dia untuk melaksanakan sholat di masjid sekolah tersebut. Dua teman anak itu selalu membantu membawa anak tersebut ke masjid sekolah. Teman yang satu menaikkan teman yang tuna daksa ke punggung teman yang sudah siap jongkok untuk menggendong teman yang tunadaksa tersebut naik undakan /tangga masjid di lantai dua untuk melakukan sholat berjamaah. (lantai satu masjid adalah aula sekolah). Mereka bergantian membantu teman yang kurang beruntung tersebut.

Bagi saya pribadi sebagai orang tua, kehadiran siswa tunadaksa tersebut mengajarkan banyak hal kepada teman-teman lainnya yang normal tanpa banyak memberi ceramah atau teladan, menumbuhkan rasa syukur tanpa harus mengejek keadaan teman yang kurang beruntung, menumbuhkan empati dan peduli, dan menumbuhkan rasa gotong royong dalam membantu teman yang tunadaksa melalui hal kecil seperti membantu ke masjid yang dilakukan secara rutin yang akhirnya menjadi pembiasaan yang baik dan menjadi karakter pada siswa-siswa di sekolah tersebut.

Keberadaan siswa tunadaksa tersebut menumbuhkan dua Profil Pelajar Pancasila yaitu akhlak mulia dan gotong royong dari teman-teman lainnya yang normal.

Dari elemen kunci akhlak mulia yaitu:

Akhlak pribadi: Menyadari bahwa menjaga dan merawat diri penting dilakukan bersamaan dengan menjaga dan merawat orang lain dan lingkungan sekitarnya, Akhlak kepada manusia: Mengutamakan persamaan dan kemanusiaan di atas perbedaan serta menghargai perbedaan yang ada dengan orang lain.

Dari elemen kunci gotong royong yaitu:

Kolaborasi: bekerja bersama dengan orang lain disertai perasaan senang ketika berada bersama dengan orang lain dan menunjukkan sikap positif terhadap orang lain. (Dua teman yang selalu siap membantu teman yang tuan daksa: teman yang satu menaikkan teman yang tuna daksa ke punggung teman lainnya yang sudah siap berjongkok menggendong, yang satu menggendong teman yang tuna daksa tersebut dari naik tangga masjid ke lantai dua masjid sekolah).

Kepedulian: memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di lingkungan fisik sosial.

Melalui potret tanpa gambar atau foto pada tulisan mengenai Profil Pelajar Pancasila di SMA IT Qardhan Hasana di Kota Banjarbaru ini diharapkan membuka wawasan sekolah lain untuk mau menerima siswa yang berkebutuhan khusus di sekolah mereka.

Sabtu, 05 Januari 2013

Jangan Sampai Amal Kita Hangus!

Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.
Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.
Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.

Para sahabat penasaran. Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin 'Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari dirumahnya.

Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, "Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan. Apa yang engkau lihat itulah.

Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah SWT berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian dan rasa dendam.

Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qalbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih (QS. Asy Syu'raa (26) : 87.

Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apapun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.

Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, ataupun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.

Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasi diri dengan berjuta-juta amalan wajib maupun sunat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah SWT. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.

Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan. Maka sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.

Pertama: takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tiak akan masuk surga seseorang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR. Muslim).

Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dans enang melihat orang lain susah. Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah SAW menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ketiga, Riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah SWT kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia melihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Al-Qur'an, diungkapkan pula bahaya riya. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya (QS. Al-Maa'un (107) : 4-6 ).

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.

sumber: republika.co.id 
http://ervakurniawan.wordpress.com/2012/12/24/jangan-sampai-amal-kita-hangus/

Minggu, 05 Agustus 2012

Rumi Melihat Manusia

Jangan melihat pada ekspresi-ekspresi wajah
Jangan dengarkan apa yang dikatakan lidah
Jangan biarkan airmata menghanyutkanmu
Itu semua hanyalah produk dari kulit luar manusia saja,
yang mana selalu berubah setiap harinya

Tapi lihatlah pada apa yang ada dibalik itu
Bukan pula pada hatinya, karena hati selalu berfluktuasi
Bukan pula pada pikirannya,
karena pikiran selalu mengubah sudut pandangnya
kapanpun, perspektifnya berubah
Apalagi, pikiran itu bisa saja menerima suatu keadaan yang dulunya ia tolak.
Bahkan para ilmuwan pun mengubah teori mereka

Tidak anakku !
Jika kamu ingin memahami manusia,
Maka lihatlah tindakannya pada saat ia memiliki kebebasan untuk memilih.
Hanya pada saat itulah kamu akan sangat terkejut
Ketika melihat ada seorang ahli ibadah yang melacurkan diri,
Dan seorang pelacur yang justru beribadah!
Kamu bisa juga menemukan seorang ahli fisika meminum racun,
dan kamu bisa terkaget-kaget karena menemukan seorang teman
yang menikammu dari belakang,
sedangkan musuhmu justru menyelamatkanmu!

Kamu pun mungkin akan melihat seorang pelayan yang bertindak semulia majikan,
dan seorang majikan yang berbuat serendah perbuatan pelayan yang terburuk!
Kamu mungkin pula akan melihat para Raja mengambil suap,
dan para Pengemis memberikan sedekah!

Lihatlah hakikat manusia disaat dia tidak punya rasa takut yang dapat menghentikannya;
disaat kewaspadaannya tertidur; hawa nafsunya terpuaskan, dan semua penghalang telah dirobohkan.
Hanya pada saat itulah kamu bisa melihat realitas dari manusia
Apakah dia berjalan dengan empat kaki seperti binatang,
atau justru ia terbang layaknya seorang malaikat,
atau ia merayap bagaikan seekor ular,
atau bahkan memakan lumpur seumpama cacing tanah!

(Jalaluddin Rumi)


Selasa, 05 Juni 2012

Mengetahui Kepribadian Seseorang

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan dari golongan mereka.Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui." (QS. Al-Mujaadilah (58) : 14)

Kita tidak mungkin dapat menyingkap kepribadian seseorang kecuali dengan berinteraksi dengannya, sehingga kita tahu watak asli yang dimilikinya. Atau, lakukanlah sebuah perjalanan dengannya, karena sebagaimana dikatakan sebuah ungkapan, "Sebuah perjalanan bisa menyingkap hakikat karakter seseorang."
Menjalin hubungan bisnis dengan seseorang juga bisa dijadikan cara untuk menyingkap hakikat karakter yang dimiliki. Sebab, harta adalah sebuah ujian dan tipu daya. Sering kali kita melihat seseorang yang dari luar tampak seperti ahli ibadah dan saleh, tetapi ketika dia memiliki urusan masalah uang dengan orang lain, maka tampaklah kerakusan dan kekikirannya. Hingga membuat dirinya berani berbohong, menipu, dan tidak menepati janji.
Imam Ja'far ash-Shadiq memberi beberapa tips untuk mencari orang yang layak kita jadikan teman setia.
Pertama, perhatikan sikapnya saat engkau memperoleh nikmat dan saat engkau tertimpa musibah. Jika ia datang saat engkau mendapat nikmat, dan menjauhkan diri saat engkau tertimpa musibah, ia bukanlah sahabat setiamu. Kedua, meskipun ia marah kepadamu, tetapi ia tetap mau bersahabat denganmu berarti ia benar-benar sahabatmu. Dan ketiga, meskipun terlibat perselisihan denganmu, tapi ia tidak menjelek-jelekkanmu di hadapan orang lain. Jadikanlah ia sahabat karibmu.
Seorang ulama saleh berkata, "Ketahuilah bahwa orang lain akan menjadi teman selama Anda tidak mencoba meminta bantuan darinya. Jika Anda sudah mulai berani meminta bantuan darinya, walaupun itu berupa utangan, maka setelah itu Anda akan berubah menjadi orang yang tidak dia sukai, dia akan langsung malas untuk bertemu dengan Anda lagi. Karena itu, jagalah diri Anda jangan sampai meminta-minta sesuatu dari orang lain, baik itu berupa materi maupun non materi." (HF)


Sumber : ZamZam, Renungan Harian Terpilih, No. 6/Tahun II/ Februari 2008/ Muharram-Shafar 1429 H.

Selasa, 01 Mei 2012

Ingatlah Ayat Ini


“Hai manusia, kamu lah yang butuh pada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Jika Anda Tidak Bisa Tidur..
Karena dilanda kesedihan,karena hati pedih, karena datang nestapa, hati galau tidak tahu harus bagaimana, hati hancur luluh karena musibah, atau sederet kesedihan lainnya…
Berzikirlah kepada Allah…Ingatlah Allah yang menciptkan kita semua, sebutlah nama-nama Allah nan Indah (Asmaul Husna).
Inilah yang ditegaskan Allah dalam firman Nya:

“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam: 65)

Semakin Kuat, Semakin Banyak....
Semakin kuat Anda mengingat Allah, pastilah semakin tinggi keinginanmu untuk berzikir, otomatis semakin lapang dada dan semakin bertambah kepercayaan diri. Hati akan terasa lebih tenang, jiwa bahagia dan pasti Anda akan menghadapi semuanya dengan penuh kegembiraan...maka:
Banyaklah membaca Istighfar..
Banyaklah membaca Hamdalah..
Banyaklah membaca Tasbih, Tahmid dan Takbir..
Sejukan hati dengan Asmaul Husna

Ahh…Hati Tetap Saja Tidak tenang..
Kalau ada yang nyeletuk…Ahh…saya dah zikir..tapi tetap aja hati kagak tenang..?? malah masalah makin banyak aja..!!
Berarti hatinya tertutup dan tidak dapat menikmati nikmatnya zikir.
Kira-kira saja, masalah segudang tapi malas Tahajud, malas ber zikir,ngak pernah Tobat, ngak bisa muhasabah. Kalaupun ber zikir hanya sekejap, malas pergi ke Majelis Taklim, malas baca Al-Qur’an, malas mengkaji Hadist, ogah datang ke Masjid…dll
Kalau sudah begini gimana nyembuhin nya?

Semoga bermanfaat.


(dari sahabat)

Selasa, 10 April 2012

Syair Penjual Kacang


oleh Emha Ainun Nadjib

Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat. Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.
“Salah seorang dari kalian keluarlah sejenak dari ruang ini, ” katanya, “Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”
Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian. “Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, “Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Alloh dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan.”
Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-habib,sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.
“Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, “hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”
“Tetapi ya Habib,” seorang bertanya, “apa hubungan antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”
Al-habib menjawab, “Penjual kacang itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”
Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, “Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”
“Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, “Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi maqom-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”
Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, “Mahamulia Alloh yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan….”. Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al -Habib erat-erat.
***

 Emha Ainun Nadjib
Seribu masjid Satu jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 1995




Sabtu, 31 Maret 2012

Aku Tak Selalu Mendapatkan Apa Yang Kusukai, Oleh Karena Itu Aku Selalu Menyukai Apapun Yang Aku Dapatkan


Judul artikel diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan dan orang-orang di sekitar Anda.  Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan,  ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar gonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi  rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya.  Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia  terkejut melihat penghuni lain itu terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”. ”Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?  ” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.” Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian,  ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu . Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit . Di masa itulah kamu tumbuh …
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu . Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru . Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat . Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih . Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.
***

Kamis, 15 Maret 2012

Leher Kambing si Miskin


Oleh: Emha Ainun Nadjib 

Sukses kampanye tauhid Rasulullah terutama karena mengandalkan uswatun khasanah: teladan hidup yang bersih dan konsisten. Tak banyak omong. Mulut beliau Terpelihara. Beda dengan hobi kita sekarang.
Memang, asyiknya Nabi utusan Tuhan terakhir, Muhammad Saw., ini bukan hanya karena beliau itu manusia lumrah raja, aba ahadin min-kum (sebagaimana bapak anak-anak pada umumnya). Bukan karena karakter kerasulan beliau serius mengandalkan mukjizat atau kasekten yang aneh-aneh. Namun yang paling mengasyikkan adalah bahwa putra Abdullah ini buta huruf dan mernilih hidup melarat.
Pada suatu hari datang bertamu kepada beliau seorang anak yang menyampaikan pesan ibunya agar Nabi memberikan sesuatu kepadanya. Nabi berkata, "Hari ini kami serumah tak punya apa-apa." Si anak ngeyel, "Kata ibu, kalau tak punya apa-apa, mohon Nabi menanggalkan baju dan memberikan kepada kami."
Muhammad pun menanggalkan bajunya, memberikannya, kemudian duduk dalam rumah, kedinginan dan agak menyesal. Allah segera kirim Jibril untuk memuji namun juga mengkritik Muhammad, "Jangan mengalungkan kedua tanganmu di leher, namun juga jangan mengulurkan tangan terlalu panjang."
Artinya, manusia tak boleh pelit. Tapi dalam bersedekah juga harus tetap rasional dan realistis. Sakmadya, kata orang Jawa.
Di saat lain Nabi yang anggun pendiam ini tampak buncit perutnya tatkala sembahyang di masjid, Sayyid Umar bin Khaththab memperhatikan dan menelitinya dengan. seksama. Akhirnya ketahuan bahwa beliau sedang kelaparan, sehingga diambilnya sebongkah batu, diikatkannya di perut, lantas ditutupi gamis. Umar belingsatan mencarikan makanan untuk beliau.
Ternyata pilihan untuk melarat, asal jangan sampai fagiy, absah juga. Manusia berhak untuk kaya, tapi berhak pula untuk miskin. Muhammad ini contoh yang paling 'gawat' dalam sejarah dalam soal keberhasilan ekonomi, bahkan puasa kesejahteraan atau apalagi kemewahan sedemikian rupa. Kaum orientalis maupun kita-kita sampai sekarang jarang menyebut-nyebut betapa pentingnya etos satu ini untuk mempersyaratkan mutu kepemimpinan seseorang atau masyarakatnya.
Muhammad penguasa jazirah Arab, namun menolak untuk menjadi penguasa. Sebab ia adalah pemimpin.

Penguasa dan pemimpin adalah dua rnakhluk dan dua soal yang sama sekali berbeda. Penguasa memanage kekuasaan dirinya atas orang banyak, sedangkan pemimpin memanage cinta dan sistem penyejahteraan.
Ketika itu Muhammad sanggup memperoleh apa saja: dunia sudah digenggamnya. Ia sudah memiliki segala persyaratan untuk duduk di singgasana dan menikmati segala-galanya: jaringan, akar, geniusitas, ketrampilan manajemen, kependekaran fisik, atau apa saja yang harus dirriliki oleh seorang raja.
Namun Beliau ogah jadi raja. Raja itu malik.
'Malik' itu sifat Tuhan. Beliau memilih term Khalifah dan itu sama dengan fungsi setiap manusia, meskipun Allah memuliakannya dengan status nabi dan rasul. Muhammad makan hanya karena lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Beda dengan kita yang terus lapar dalam keadaan kekenyangan. Muhammad bersedia tidur beralaskan daun aren ketika pulang larut malam dan sungkan membangunkan Aisyah.
Muhammad punya pendahulu nenek-moyang yang bernama raja Sulaiman putra Daud. Allah menawarinya apakah mau menjadi raja dan kaya-raya seperti Sulaiman. Beliau menolak. Supaya masuk syurga duluan, beda dengan Sulaiman yang mendapat jatah terakhir sesudah semua nabi.
Apakah ia, Muhammad itu, seorang masochis-romantik? Seseorang yang sok, anti materi dan cengeng?

Bukankah Allah membuka pintu lebar-lebar, "Kuhamparkah bumi dan langit dan semua isinya. Makan dan minumlah, asal jangan berlebih-lebihan...."? Kenapa Muhammad memilih 'kekurangan' setidak-tidaknya menurut tolok ukur kita sekarang?
Memang kebanyakan kita sekarang jauh lebih kaya dibanding Mohammad. Bahkan 30 juta penduduk Indonesia yang kabarnya masih di bawah garis kemiskinan, belum tentu lebih parah keadaannya dibanding Muhammad. Betapa mungkin, seorang nabi, yang menurut logika moral seolah-olah berhak atas separo jazirah Arab beserta tambang-tambangnya: ketika wafat, malah masih punya hutang beberapa kilogram gandum kepada tetangganya seorang Yahudi? Kita yang satpam atau tukang ojek pun mungkin lebih baik dari itu keadaan ekonominya.
Namun jangankan Muhammad. Sedangkan kepala suku Ammatoa di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepala suku Boti, Soe, Nusa Tenggara Timur pun tahu dan konsisten bagaimana berlaku sebagai pemimpin. Ia tak bersedia menerima sesuap pun dari rakyat. "Kalau saya menerima sesuatu dari rakyat saya, mereka berhak meniru saya untuk meminta-minta" katanya, "saya harus mencontohkan bagaimana bertariggungjawab kepada diri sendiri. Harus mencari makan sendiri, maka dari piling yang saya buat sendiri
dan minum dengan gelas yang juga saya buat sendiri...."
Di mata kita dan cara berpikir kita sekarang, Muhammad dan Amatoa adalah pemimpin yang tolol. Mereka tidak tahu mumpung, tak tahu bagaimana posisi, jabatan, kekuasaan dan peluang.
Logika dan moralitas Muhammad terbalik bagi kita. Sebelurn menjadi nabi dan pemimpin, Muhammad membuktikan dulu perilaku yang terpercaya (al-amin), menjadi sales yang jujur dan merijaga setiap ucapannya. Kemudian sesudah jadi nabi malah berhenti berdagang. Padahal 'mestinya' menurut gaya hidup kita yang maju dan modernsesudah tercapai menjadi penguasa itulah justru peluang amat luas untuk menggunungkan omset dagang. Semakin tinggi kekuasaan di jalur birokrasi semakin banyak kesempatan fasilitas (dana, kemudahan-kemudahan, dominasi).
Tapi rupa-rupanya "perniagaan" Muhammad mernang lain. Ketika beliau diberi hadiah seekor kambing, lantas disembelih dan dibagi-bagikan ke seluruh tetangganya.
"Sudah habis semua, ya Rasul," kata Aisyah, "Yang tersisa buat kita tinggal leher kambing itu"..
"Tidak, Aisyah," sahut Nabi, "Yang tersisa menjadi milik kita adalah seluruhnya kecuali lehernya."
Tentu ini diketawain oleh ideolog konsep kepemilikan.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kampung Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Selasa, 13 Maret 2012

Bila Al-Qur'an Bisa Bicara!


“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al A’raaf [7] : 36).
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca
Koran pagi atau nonton berita TV Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan?
Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selama melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…
Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…
Di kuburmu nanti….
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu
Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali…
Baca dan pelajari lagi aku….
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu….dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…
Di surau kecil kampungmu yang damai

Jangan biarkan aku sendiri…. Dalam bisu dan sepi….

“Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu”

***

Sumber:

Sabtu, 10 Maret 2012

Kunjunganku ke Tresna Werdha (Panti Jompo)


Kunjungan saya ke panti jompo atau tresna werda yang ada di salah satu kota Banjarbaru ini adalah kunjungan dinas luar pertama saya untuk tahun ini.
Tujuan kami (saya dan rekan kerja atas nama instansi di mana saya bekerja) mendatangi panti tersebut adalah untuk memberikan pembelajaran baca tulis al-qur’an bagi para penghuni panti yang beragama islam dan belum bisa baca tulis al-qur’an.
Setelah acara seremonial, kami melanjutkan kunjungan kami berikutnya di bulan berikutnya, untuk memonitor kegiatan tersebut.
Sewaktu saya dan rekan kerja memasuki kawasan panti jompo ini menuju Langgar di mana kegiatan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an bagi warga panti jompo ini, kami melewati jalan di mana kanan kiri jalan terdapat wisma yang seperti rumah kecil yang masing-masing rumah atau wisma tersebut terdiri dari beberapa kamar. Lingkungan komplek wisma tersebut sangat asri. Setiap wisma ada namanya yang ditempel di atas pintu wisma.
Ketika kami sampai di depan wisma kedua di deretan wisma-wisma tersebut, tiba-tiba bapak tua yang sedang duduk di depan wisma berdiri dan memberi  hormat kepada kami seolah kami adalah komandan atau atasannya. Kami membalas hormat bapak tua itu dengan tersenyum dan mengangguk. Tetapi bapak tua itu kelihatan marah dan mengomel dengan suara yang tidak jelas, jadi saya balas dengan mengangkat tangan membalas hormat bapak tua tersebut, tetap sambil tersenyum. Dalam hati saya berfikir mungkin bapak tua ini dulu adalah seorang pejuang yang hidup di masa penjajahan Jepang.
Dari 135 penghuni di panti tersebut, ada 28  orang dewasa yang belum bisa baca tulis al-qur’an. Dan dari 135 penghuni panti tersebut ada 10 orang yang mengalami gangguan jiwa, termasuk bapak tua yang memberi hormat kepada kami tadi.
Saya sangat kagum dengan semangat para peserta kegiatan pembelajaran ini yang notabene mereka adalah orang dewasa di usia senja namun masih mau belajar, sekaligus saya juga trenyuh dengan keadaan para penghuni panti jompo tersebut. Berulang kali terngiang pertanyaan di hati saya kemanakah anak atau sanak saudara mereka? Mengapa mereka menghabiskan sisa waktu hidupnya di panti jompo ini? Apa yang telah mereka lakukan di masa lalu sehingga mereka berada dip anti jompo ini? Bagaimana cara mereka mendidik putra-putri mereka sehingga mereka ada di panti ini? Bagaimana hubungan mereka dengan saudara-saudara mereka? Dan banyak lagi pertanyaan yang menyeruak di pikiran saya.
Karena waktu kami sedikit maka saya hanya sempat bertanya kepada tutor yang mengajar di panti tersebut. Padahal saya ingin mengobrol dengan salah satu atau beberapa bapak dan ibu yang usianya sudah lanjut yang menjadi peserta dalam pembelajaran baca tulis Qur’an tersebut.
Kata tutor tersebut bahwa mereka bisa ada di panti tersebut kebanyakan “dikirim’ oleh sanak saudara mereka. Kebanyakan dari mereka adalah dari luar kota Banjarbaru, dan kebanyakan mereka sebenarnya termasuk orang yang mampu. Terkadang mereka dikunjungi pihak keluarga sebulan sekali.
Saya masih belum puas dengan informasi yang saya dapat. Tetapi karena keterbatasan waktu jadi terpaksa saya harus menyimpan semua pertanyaan saya untuk bulan berikutnya, mudah-mudahan lebih banyak waktu yang saya punyai dari bulan kemarin.
Namun satu hal yang saya dapat dari kunjungan saya ini adalah betapa pentingnya keluarga, betapa pentingnya menjaga keutuhan keluarga, komunikasi, rasa sayang dan saling mengasihi ,  menanamkan sifat-sifat kasih sayang, perduli dan empati kepada anak-anak kami, juga pada diri pribadi saya dan suami.


Banjarbaru, awal Maret 2012. (Foto diatas adalah salah satu foto kegiatan pembelajaran baca tulis Qur'an di panti jompo yang saya kunjungi)

Minggu, 08 Januari 2012

Are you mature woman or immature woman?


Immature women want to control the man in their lives,
Mature women know that if he is truly hers, there is no need to control.

Immature women cry because he doesn't call,
Mature women are too busy to realize he hadn't call.

Immature women are afraid to be alone,
Mature women using it as a time for personal growth.

Immature women make a man go home,
Mature women make him want to return home.

Immature women monopolize the time of her man,
Mature women realize that a bit of space make the time together something more special.

Immature women do not forgive and punished by the rancor,
Mature women know that he was just a man.

Immature women fall in love and pursued relentlessly,
Mature women know that someone you love, not love you and then move on without bitterness.

Immature women will read this and make a face,
Mature women pass it on to other women.

In short, you decide that you're a mature woman or immature woman.
Remember that changes are within you.


(anonymous)

Rabu, 04 Januari 2012

Twin Soul

How many times you will have passed next to me
And maybe blinded by your incandescent shine
I haven't been able to see you

How many times you will have thought about me
As well as I have thought about you
Eventhough we don't know each other yet

I feel you very close, but so far at the same time
That I would be able to travel through the time and space
In order to make more quickly our encounter moment


by Wilmer Cabriles
(Wilmer adalah seorang teman lama saya yang berasal dari Venezuela)

KOPI PERTAMAKU


Kopi adalah minuman favoritku. Ada pengalaman berhargaku dengan kopi dan almarhum Emak, panggilan sayang ibuku.
Sejak aku duduk di kelas 6 sekolah dasar aku mulai menyukai rasa kopi. Namun aku tidak pernah membuat kopi untuk aku sendiri. Berawal dari kebiasaanku “menyruput” kopi bapakku yang disediakan di cangkir khusus oleh Emak. Kopi yang diseduh oleh Emak baunya sangat harum sehingga selalu membuatku tergoda untuk merasakannya. Aku selalu mendekati Emak apabila beliau menyeduh kopi untuk bapakku.
“Enak ya, Mak?’ tanyaku.
“Iya,” jawab Emak singkat.
“Boleh gak aku minta sedikit?” tanyaku.
‘Hush, jangan, ini kopi Bapak. Kamu gak boleh clintisan minum kopi Bapak,” larang beliau.
Semakin dilarang, aku semakin penasaran. Jadi aku selalu mencuri kesempatan hanya untuk merasakan kopi Bapak. Apabila Bapak atau Emak tidak ada di sekitar meja di mana Emak biasa menaruh cangkir kopi Bapak, dengan cepat aku selalu “menyruput” kopi Bapak.
Tapi lama-lama rupanya ulahku ini diketahui oleh Emak, karenaBapakku sering tanya, “lho, kopiku kok berkurang? Siapa ni yang minum?”
Emak diam saja, karena anaknya banyak, aku lima bersaudara, sehingga Emak tidak langsung menuduh anak-anaknya begitu saja.
Keesokan harinya, seperti biasa, aku celingukan dulu, memastikan tidak ada Bapak atau Emak atau saudaraku yang lain di ruangan di mana cangkir kopi Bapak berada. Kulihat cangkir Bapak, masih ada setengah cangkir kopi yang tersisa. Langsung kuambil cangkir itu, kuminum kopi itu, tetapi ,’bahhhhh’ pahit sekali kopi Bapak hari ini. Langsung aku semprotkan kopi pahit itu dari mulutku. Dan tiba-tiba Emak sudah berdiri dibelakangku. Wah,ketangkap basah aku.
‘Mak, kok tumben emak menyediakan kopi pahit buat Bapak?, tanyaku seolah aku tidak bersalah.
“Kopi itu Emak buat khusus buat anak yang suka menyruput kopi Bapak tanpa izin,’ jawab Emak, tanpa ada ekspresi marah di wajahnya. Aku jadi malu, namun merasa nyaman karena tidak dimarahi Emak. Emak memang orang yang paling sabar di dunia ini. Aku beruntung memiliki Emak seperti beliau.
Sejak saat itu, aku tidak menyruput kopi Bapak lagi diam-diam. Aku menunggu kepulangan Bapak dari sekolah di mana Bapakku mengajar, lalu jika masih ada kopi tersisa aku minta izin Bapak untuk minta barang seteguk. Dan Bapak selalu mengizinkannya. Ah, indahnya pelajaran yang kuambil dari kopi ini. Terima kasih Emak atas kasih sayangmu, teladanmu, cara mendidik aku dengan kesabaranmu dan semua yang Emak berikan padaku. Anakmu sekarang teramat merindukanmu.

Kamis, 29 Desember 2011

Busuknya Kebencian

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan"permainan".
Ibu Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dankentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yangdibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa ... tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun,selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karenapenderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.

Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkahtidak nyamannya ..."


sumber: http://artikel-motivasi.blogspot.com/2007/04/busuknya-kebencian.html

Selasa, 21 Desember 2010

SELAMAT HARI IBU

Tentu kita masih ingat lagu sewaktu kita masih di taman kanak-kanak dulu: kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia....".
Ya, cinta ibu terhadap anaknya adalah cinta yang tulus yang tidak mengharapkan balasan.
Cinta ibu tulus menyayangi anak-anaknya tanpa syarat.

Hanya memberi, tak harap kembali...
Betapa tulusnya kasih ibu.
Saya mempunyai pengalaman pribadi tentang kasih ibu. (Sekarang ibu saya sudah kembali ke rahmatullah, ya Allah, ampuni segala dosa ibu saya, dan tempatkan beliau di tempat terindah dan istimewa di sisi-Mu).
Ibu saya adalah orang yang sabar, seorang ibu yang sabar. Beliau tidak pernah marah atau meneriaki anak senakal apapun anak-anaknya. Saya anak ke lima dari enam bersaudara. Betapa repotnya ibu saya di rumah mengurusi enam anak. Bapak saya seorang guru, beliau sangat disiplin, sehingga tidak segan-segan menghukum kami jika kami membuat kesalahan. Sangat jauh beda dengan ibu saya. Jika kami membuat kesalahan (baca: kenakalan anak-anak) maka beliau hanya berkata, "ya Allah, gusti anak agung".
Saya masih ingat sewaktu saya masih di TK. Bapak saya pulang dari sekolah (tempat mengajar) membawa sekarung beras. Beras itu beliau taruh di tempat biasa, yaitu di dapur. Saya yang waktu itu masih TK melihat karung beras yang penuh isinya, mengundang saya untuk bermain-main dengan beras itu. Lalu saya buka karung beras itu, saya hamburkan beras itu ke atas sambil bersorak "hujan beras, hujan beras". Beras terhambur di mana-mana. Tidak lama ibu saya datang, beliau hanya bilang, "ya Allah.. gusti anak agung..." sambil mengumpulkan beras-beras yang terhambur di lantai. Beliau sama sekali tidak marah.
Sangat jauh berbeda dengan saya, mungkin jika saya di posisi ibu saya saat itu saya pasti marah dan menghukum anak. Namun ibu saya tidak pernah menghukum saya. Beliau sangat sabar...
Emak... aku sangat sayang padamu.
Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24]
Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:41]
Jadikanlah setiap hari menjadi hari Ibu.

Senin, 23 Agustus 2010

RUMAH SERIBU CERMIN


Di bulan Ramadan ini adalah kesempatan yang paling berharga bagi seorang muslim untuk memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Salah satu nya adalah dengan membersihkan hati dari segala macam penyakit hati; sombong, iri, dengki, dan lain sebagainya. Karena hati adalah cermin dari pribadi kita.
Artikel ini saya dapatkan dari internet juga, dan saya posting di sini untuk mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki atau membersihkan hati kita, sehingga di saat kita "bercermin" di lubuk hati yang terdalam, tidak ada pantulan gambar diri kita yang tidak kita sukai seperti pada kisah ini.

Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin". Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinganya terangkat tinggi-tinggi, ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
sumber: http://www.iloveblue.com/bali

Senin, 25 Januari 2010

Jeruk santang....



Kisah ini bukan menceritakan tentang asal-usul jeruk santang atau tentang apa-apa yang mengenai jeruk santang.
Yang akan saya tulis disini adalah cerita dari seorang teman yang curhat ke saya kemaren.
Dan menurut saya kisah ini bagus juga saya bagi disini, sekedar berbagi, dan semoga ada manfaatnya.
Temen saya ini lagi hamil, sama dengan saya.
Dia lagi kepengen dibelikan jeruk santang sama suaminya.
Katanya sudah tiga hari dia kepingin jeruk santang tetapi suaminya belum sempat membelikannya karena kesibukan sang suami. Dia mencoba maklum dengan kesibukan suami walau air liurnya sudah tidak tahan lagi merasakan segar dan manisnya jeruk santang.
Selama tiga hari itu pula ia menyandarkan harapan ke suaminya untuk membelikan jeruk itu.
Lalu dia tersadar...., betapa salahnya bila dia hanya mengharapkan suaminya akan membelikan jeruk itu, karena suaminya selalu bilang dia sibuk sehingga tidak bisa mampir hanya untuk membeli jeruk. Mungkin suaminya itu tidak pernah paham bagaimana rasanya bila orang hamil kepingin sesuatu alias nyidam. Dia juga tidak bisa keluar ke pasar atau supermarket untuk membeli jeruk itu sendiri karena tidak mungkin baginya membawa kedua anak-anaknya berbelanja sedangkan dia sendiri juga sedang ngidam, tidak mampu jalan keluar karena rasa mual yang berkepanjangan.
(sebagai sesama teman dan sesama perempuan, geram juga mendengar cerita teman saya itu, geram ama suaminya.)
Kemudian, tepat disaat dia menyadari kesalahannya bahwa dia telah salah jika hanya menyandarkan harapan kepada suaminya, atau sesama manusia, lalu dia istighfar, minta maaf pada Allah.
Sudah seharusnya dia tidak terlalu mengharap sesuatu pada sesama manusia, walau itu suaminya. Karena hanya ada kecewa bila kita menyandarkan harapan pada sesama.
Setelah menyadari kesalahannya, dia banyak beristighfar.
Alhamdulillah, tidak lama ada teman dekatnya datang menjenguk dia.... dan apa yang dibawa temannya? JERUK SANTANG.
Dia yakin tidak ada kata "njilalah" atau kebetulan. Semua diatur oleh Yang Maha Pengatur.
Itulah kisah jeruk santang dari teman saya.